Seminar Nasional " Agro-Ecosystem", FTIS-UNHI 2019

11 Oct 2019 | I Putu Darmawan, ST

Seminar Nasional Unhi 2019 “Agro-Ecosystem”

I Gede Ketut Adiputra, Jumat 20 September 2019

Ekosistem alam dapat berubah, baik karena faktor alam maupun faktor manusia.  Oleh karena faktor alam sulit diatasi, maka perubahan oleh faktor manusia perlu mendapat perhatian, seperti pemanfaatan sumber alam secara bijaksana, agar lingkungan tetap lestari.  Kelestarian lingkungan telah disadari sangat penting baik untuk keberlangsungan industri pariwisata maupun untuk keberlanjutan produksi pertanian.  Akan tetapi, apa yang seharusnya dilakukan untuk menjaga kelestarian masih banyak yang bisa dibahas.

            Mengingat perlunya menjaga kelestarian ekosistem, maka Fakultas Teknologi Informasi dan Sains, Universitas Hindu Indonesia mengangkat “Agro-Ekosystem” sebagai tema seminar. 

Seminar nasional yang diselenggarakan tgl. 18 September 2019 ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk berdiskusi secara akademik tentang kelestarian lingkungan yang berhubungan dengan industri pariwisata, keanekaragaman hayati, kearifan local maupun pertanian berkelanjutan.  Menurut WR 3 UNHI, yang membuka secara resmi seminar ini, yaitu Dr. I Wayan Muka, kegiatan penelitian sangat penting untuk akreditasi sebuah Universitas karena 25% dari nilai akreditasi berasal dari kegiatan penelitian.

Keynote speaker pada seminar ini adalah: 1. Prof Ueru Tanaka dari Research Institute for Humanity and Nature, RIHN, Kyoto, Jepang, 2. Ir Ida Ayu Astarini, M.Sc, PhD dari Universitas Udayana, 3. Robindro Aribam, M.Sc dari Bhakti Vedanta, India, 4. Dr. I Gede Ketut Adiputra dari Universitas Hindu Indonesia, sebagai tuan rumah. 

       Partisipan pada seminar ini berjumlah sekitar 150 orang yang berasal dari berbagai Institusi dan Universitas, seperti: LIPI, Kebun Raya Eka Karya, Universitas Udayana, Undira, Universitas Maha Saraswati, IKIP PGRI, STIMIK, Universitas Warmadewa, IIK Medika Persada Bali dan sebagai tuan rumah adalah Universitas Hindu Indonesia.

       Subtema pada seminar ini adalah 1 .Ekotourism, 2. Keanekaragaman hayati dan kearifan local, 3. Pertanian berkelanjutan.  Artikel yang dipresentasikan oleh peserta berjumlah 34 judul.  Dengan adanya berbagai judul, maka seminar ini menjadi kesempatan yang sangat baik untuk saling berbagi pengalaman dan keahlian antar akademisi dan meningkatkan kerja sama para peneliti, untuk kesejahteraan masyarakat.  Pada sesi plenari, Prof Ueru Tanaka mengatakan bahwa perkebunan skala kecil dapat meningkatkan pendapatan dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.  Hal ini disebabkan karena perkebunan sekala kecil biasanya dilakukan dengan sistem tumpang sari (agro-forest) yang dilengkapi dengan peternakan seperti sapi, babi dan ayam.  Sistem tumpang sari ini tidak memerlukan pupuk yang terlalu banyak sehingga dapat dipenuhi dengan memanfaatkan pupuk organik dari ternak.  Sistem seperti ini telah berhasil menjaga kelestarian alam di Tanzania yang memiliki iklim serupa dengan yang ada di Indonesia.  Ir. Ida Ayu Astarini, M.Sc, PhD pada seminar ini memperhatikan keberadaan jenis tanaman yang dapat mengalami kepunahan akibat pengrusakan habitat dan pengambilan sumber alam secara berlebih.  Menurut ahli yang merupakan tamatan dari University of West Australia ini, kehilangan jenis tumbuhan dapat memberi pengaruh buruk pada ekosistem secara keseluruhan karena tumbuhan sangat penting untuk menstabilkan tanah yang menjadi tempat berlindung bagi tanaman lainnya yang diperlukan untuk berbagai kebutuhan manusia.  Pencegahan terhadap kehilangan jenis tumbuhan ini menurut Ida Ayu Astarini adalah pendidikan konservasi yang meliputi aktivitas konservasi sumber daya genetic tanaman.  Sementara itu, Robindro Aribam menyoroti tentang penggunaan sumber alam secara berlebihan atau salah menggunakan sumber daya alam dapat menyebabkan terjadinya situasi yang berbahaya.  Sebagai tuan rumah Adiputra menyinggung tentang pemanfaatan limbah tanaman seperti sabut kelapa atau potongan rumput untuk membantu tanaman panili menjaga kelembaban tanah. 

       Artikel yang disajikan dalam sesi parallel tidak kalah menariknya dengan artikel yang disajikan pada sesi plenari.  Dr. Ida Bagus Dharmika, yang merupakan mantan rektor UNHI,misalnya mengemukakan bahwa kitab suci Hindu banyak menyebut sungai sebagai tempat yang suci.  Tetapi pada kenyataannnya sungai banyak digunakan sebagai tempat pembuangan limbah. 

Pembicara lain ada yang menelisik potensi pariwisata di daerah Tabanan, ada yang membicarakan daya dukung pariwisata di daerah Nusa Penida, Genjek Karang asem dsbnya. 

    Demikian laporan kami tentang Seminar Nasional unhi 2019 yang bertema “Agro-Ecosystem”.  Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi kontribusi sehingga seminar nasional dapat berjalan dengan lancar.